Tuesday, June 17, 2008

Perkataan Ibu Theresa sebelum kematiannya

Inilah perkataan yang diucapkan ibu Teresa sebelum kematiannya:

"Kalau saya memungut seseorang yang lapar dari jalan, saya beri dia sepiring nasi, sepotong roti. Tetapi seseorang yang hatinya tertutup, yang merasa tidak dibutuhkan, tidak dikasihi, dalam ketakutan, seseorang yang telah dibuang dari masyarakat - kemiskinan spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk diatasi."

Mereka yang miskin secara materi bisa menjadi orang yang indah.

Pada suatu petang kami pergi keluar, dan memungut empat orang dari jalan. Dan salah satu dari mereka ada dalam kondisi yang sangat buruk.

Saya memberitahu para suster: "Kalian merawat yang tiga; saya akan merawat orang itu yang kelihatan paling buruk."

Maka saya melakukan untuk dia segala sesuatu yang dapat dilakukan, dengan kasih tentunya. Saya taruh dia di tempat tidur dan ia memegang tangan saya sementara ia hanya mengatakan satu kata: "Terima kasih" lalu ia meninggal.

Saya tidak bisa tidak harus memeriksa hati nurani saya sendiri. Dan saya bertanya : "Apa yang akan saya katakan, seandainya saya menjadi dia?" dan jawaban saya sederhana sekali. Saya mungkin berusaha mencari sedikit perhatian untuk diriku sendiri.

Mungkin saya berkata: "Saya lapar, saya hampir mati, saya kedinginan, saya kesakitan, atau lainnya". Tetapi ia memberi saya jauh lebih banyak ia memberi saya ucapan syukur atas dasar kasih. Dan ia mati dengan senyum di wajahnya.

Lalu ada seorang laki-laki yang kami pungut dari selokan, sebagian badannya sudah dimakan ulat, dan setelah kami bawa dia ke rumah perawatan ia hanya berkata: "Saya telah hidup seperti hewan di jalan, tetapi saya akan mati seperti malaikat, dikasihi dan dipedulikan."

Lalu, setelah kami selesai membuang semua ulat dari tubuhnya, yang ia katakan dengan senyum ialah: "Ibu, saya akan pulang kepada Tuhan" - lalu ia mati.

Begitu indah melihat orang yang dengan jiwa besar tidak mempersalahkan siapapun, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Seperti malaikat, inilah jiwa yang besar dari orang-orang yang kaya secara rohani sedangkan miskin secara materi.

* Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.

* Hidup adalah keindahan, kagumi itu.

* Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.

* Hidup adalah tantangan, hadapi itu.

* Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.

* Hidup adalah pertandingan, jalani itu.

* Hidup adalah mahal, jaga itu.

* Hidup adalah kekayaan, simpan itu.

* Hidup adalah kasih, nikmati itu.

* Hidup adalah janji, genapi itu.

* Hidup adalah kesusahan, atasi itu.

* Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.

* Hidup adalah perjuangan, terima itu.

* Hidup adalah tragedi, hadapi itu.

* Hidup adalah petualangan, lewati itu.

* Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.

* Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.

* Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu.

Monday, June 16, 2008

KISAH KASIH TUHAN

Pada suatu pagi hari, aku bangun lebih awal agar dapat menyaksikan terbitnya matahari. Suatu keindahan ciptaan Tuhan yang tidak terlukiskan. Sambil duduk menikmatinya, aku memuji keindahan karya tangan Tuhan, dan aku merasakan kehadiran Tuhan bersamaku.

Tuhan bertanya kepadaku:

“Apakah engkau mengasihi-Ku?”

Aku menjawap: “Tentu, Tuhan!

Kerana Engkaulah Raja dan Penyelamatku”

Kemudian Tuhan bertanya:

“Seandainya tubuhmu menjadi cacat, apakah engkau masih mengasihiKu?”

Aku bingung, lalu melihat tangan, kaki dan seluruh tubuhku yang lain. Dan baru kusedari betapa banyak hal yang tidak dapat aku lakukan tanpa mereka, sebab selama ini aku menganggap semuanya itu wajar-wajar saja.

Aku menjawap:

“Tuhan sungguh sulit, namun aku masih akan tetap mengasihi-Mu.”

Kemudian Tuhan berkata:

“Seandainya engkau menjadi buta, apakah engkau masih mencintai ciptaan-Ku?”

Bagaimana mungkin aku mencintai sesuatu tanpa melihatnya? Lalu aku teringat akan orang-orang buta diseluruh dunia. Dan banyak diantara mereka yang masih tetap mengasihi Tuhan dan ciptaan-Nya.

Maka aku menjawap:

“Sungguh sulit memikirkan hal ini, namun aku akan tetap mengasihi-Mu.”

Lalu Tuhan bertanya:

“Seandainya engkau menjadi tuli, apakah engkau masih mahu mendengarkan sabda-Ku?”

Bagaimana aku dapat mendengarkan sesuatu bila aku tuli? Tetapi aku mengerti bahawa mendengarkan sabda Allah tidak hanya menggunakan telinga saja, tetapi dengan hati kita.

Aku menjawap:

“Mungkin sulit, namun aku tetap ingin mendengarkan sabda-Mu.”

Lalu Tuhan bertanya,

“Seandainya engkau menjadi bisu apakah engkau masih mahu memuji nama-Ku?”

Bagaimana aku dapat memuji Tuhan tanpa menggunakan suara? Tetapi kemudian terfikirkan olehku bahawa: Tuhan inginkan madah pujian dari kedalaman hati dan jiwa kita. Tidak menjadi masalah seperti apa pun suara kita. Dan memuji Tuhan tidak selalu melalui nyanyian pujian. Bahkan ketika mengalami penderitaan, kita masih dapat memuji Allah dengan ucapan syukur.

Maka aku menjawap:

“Walaupun aku sudah tidak dapat menyanyi lagi, aku tetap memuji nama-Mu.”

Tuhan kembali bertanya,

“Apakah engkau sungguh-sungguh mengasihi-Ku?”

Disertai keberanian dan keyakinan yang kuat, aku menjawap dengan tegas:

“Ya Tuhan! Aku mengasihi-Mu kerana Engkaulah satu-satunya Allah yang benar!”

Aku kira telah menjawap dengan baik, tetapi

Tuhan bertanya,

“Kalau begitu mengapa engkau berbuat dosa?”

Aku menjawap”

“Aku hanya seorang manusia dan aku tidak sempurna.”

Lalu mengapa dalam keadaan senang, engkau berpaling menjauhi dariKu?” Dan mengapa hanya dalam saat-saat susah saja, engkau berdoa dengan sungguh-sungguh kepadaKu?”

Tidak ada jawapan, hanya deraian air mata.

Tuhan berkata lebih lanjut:

“Mengapa engkau menyanyikan pujian haya dalam pertemuan doa dan retret saja?” “Mengapa engkau mencari aku hanya waktu melaksanakan ibadat saja?”

“Mengapa doa permohonanmu hanya untuk kepentingan dirimu sendiri?”

“Mengapa engkau memohon sesuatu tanpa iman kepercayaan kepadaKu?”

Air mataku terus mengalir membasahi pipiku.

Tuhan bertanya lagi:

“Mengapa engkau malu mengakui Aku?”

“Mengapa engkau tidak mewartakan Belas Kasih-Ku?”

Mengapa pada saat penderitaan, engkau cari orang lain, padahal Aku menyediakan bahu-Kusebagai tempat engkau menyandar untuk mendapatkan kelegaan?”

Mengapa banyak berdalih ketika Aku berikan kesempatan bagimu melayani dalam nama-Ku?”

Aku mencuba menjawap tetapi tidak ada jawapan yang dapat kuberikan.

“Aku menganugerahkan hidup kepadamu, agar engkau tidak mensia-siakan anugerah hidup ini.”

“Aku anugerahkan bakat kepadamu untuk melayani-Ku, tetapi engkau terus menolaknya.”

“Aku telah menyingkapkan Sabda-Ku kepadamu, tetapi engkau tidak berusaha untuk memahaminya.”

“Aku telah berbicara kepadamu, tetapi engkau mennutup telingamu.”

“Aku telah menunjukkan limpahan berkatKu padamu, tetapi pandangan matamu tertuju kepada yang lain.”

“Aku memberi orang-orang untuk membantumu, tetapi engkau santai dan mengesampingkan mereka.”

“Aku telah mendengarkan doa-doamu dan Aku telah menjawap semuanya.”

“Benarkah engkau sungguh-sungguh mengasihi-Ku?”

Aku tidak mampu menjawabnya.

Bagaimana aku mampu menjawapnya? Aku merasa sangat malu. Aku tidak mempunyai alasan. Apa yang dapat aku katakana kepada-Nya? Aku merasa sangat pilu dan setelah tangisaku mereda,

Aku berkata:

“Ampunilah aku Tuhan, aku tidak layak menjadi anak-Mu.”

Tuhan menjawap:

“AnakKu, itulah anugerah kemurahan kasihKu kepadamu.”

Aku berkata:

“Kalau begitu mengapa Engkau terus menerus mengampuniku? Dan mengapa Engkau tetap mengasihiku?”

Tuhan menjawap:

“Kerana engkau adalah ciptaanKu engkau adalah anak-Ku. Aku sekali-kali tidak akan meninggalkanmu, kerana Aku sangat mengasihimu.”

“Ketika engkau menangis, Aku terharu dan menangis bersamamu.”

“Ketika engkau bersorak bergembira, Akupun ikut tertawa bersamamu.”

“Ketika engkau berputus asa, Aku akan meneguhkan hatimu.”

“Ketika engkau terjatuh, Aku akan mengangkatmu.”

“Ketika engkau lesu dan lelah, Aku akan menggendongmu.”

“Aku akan menyertaimu hingga akhir zaman dan Aku mengasihimu untuk selama-lamanya.

Sebelum aku tidak pernah menangis tersedu-sedu. Mengapa aku boleh begitu tidak berperasaan? Mengapa aku tega menyakiti Hati Tuhan dengan segala perbuatanku?

Aku bertanya kepada-Nya:

“Seberapa besarkah kasih-Mu kepadaku?”

Tuhan merentangkan kedua tangan-Nya dan aku melihat bekas luka-luka tembusan paku pada tangan-Nya. Aku sujud menyembah dekat kaki Kristus, Juruselamatku dan untuk pertama kalinya, aku dapat berdoa dengan khusyuk.

Aku berdoa:

Tuhan, ampaunilah kesalahan dan dosa-dosaku, ajari dan bimbinglah agar aku ingat selalu akan kasih dan kebaikkan-Mu yang telah Engkau curahkan kepadaku. Amin.

DOA PERTOBATAN

Ya Yesus,

Terimalah apa yang ada pada saat ini

Bentuklah aku menurut kehendakMu

Tunjukkanlah Jalan Mu kepadaku

Bimbinglah aku berjalan dalam kebenaranMu

Dan ajari aku merindukan firmanMu

Tentang kasih dan kebenaran,

Aku tahu, engkaulah Tuhan

Yang selalu menyelamatkan ku

Ku mohon ampunilah kesalah dan dosa-dosaku

Bimbinglah agar aku selalu ingat

Akan kasih dan kebaikanMu yagn banyak

Engkau curahkan kepadaku.

Tuhan Yesus,

Aku memohon kepadaMu

Agar Engkau mahu mengampuni

Dosa-dosaku dan teguhkanlah imanku

Agar aku tidak jatuh lagi ke dalam

Percobaan yang sama.

Demi namaMu,

Tuhan kupanjatkan doaku.

AMIN.


Kepedulian saya semoga menjadi berkat untuk anda.